majalahpos.com – Di tengah menghadapi tekanan karena harga minyak mentah yang mahal, Indonesia memutuskan untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar.

Namun, ternyata ada juga negara yang ‘kipas-kipas’ duit karena kenaikan harga minyak mentah. Bahkan semakin cuan alias untung saat harga minyak mentah tetap tinggi.

Negara itu salah satunya adalah Arab Saudi. Pendapatan Arab Saudi dari minyak mentah pada Kuartal II-2022 mencapai US$ 66,8 miliar, meroket 89% dari periode yang sama tahun lalu. Adapun sepanjang Semester I-2022, pendapatannya mencapai US$ 116 miliar, melesat 75% dari Semester I-2021.

Sektor minyak mentah berkontribusi sebanyak 46% dari produk domestik bruto (PDB), sehingga adanya peningkatan pada produksi dan ekspor ikut mendorong pertumbuhan ekonominya. Badan Statistik Arab Saudi melaporkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Arab Saudi pada Kuartal II-2022 melesat hingga mencapai 11,8%.

Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan tahunannya berjudul World Economic Outlook 2022 memperkirakan bahwa ekonomi Arab Saudi akan menjadi yang tercepat tingkat pertumbuhannya di dunia.

Adapun harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Jumat (9/9/2022) pukul 6.30 WIB. Harga minyak jenis brent berada di US$ 88,67/barel. Naik 0,77% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Semetara yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 83,03/barel. Bertambah 1,33%.