Tak Seperti Indra Kenz, Ini Rekomendasi Trading yang Benar

Tak Seperti Indra Kenz, Ini Rekomendasi Trading yang Benar

majalahpos.com

  • Kasus penipuan mengatasnamakan trading mencuat pada tahun lalu. Aktivitas trading merupakan hal yang legal di Indonesia dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
  • Trading yang umum dilakukan yakni foreign exchange (forex), yakni pasangan mata uang.
  • Dolar AS saat ini sedang diuntungkan, sehingga memberikan tekanan bagi mata uang lainnya. Tetapi dalam jangka pendek kurs euro masih akan kuat.

Jakarta, CNBC Indonesia – Awal 2022 lalu, kasus penipuan berkedok investasi atau trading menggemparkan Tanah Air. Kasus trading binary option Binomo membuat Indra Kenz pria yang digadang-gadang sebagai crazy rich tersebut divonis 10 tahun penjara.

Indra Kenz didakwa melakukan pidana judi online dan atau penyebaran berita bohong (hoax) melalui media elektronik hingga mengakibatkan kerugian konsumen melalui transaksi elektronik dan/atau penipuan atau perbuatan curang dan/atau tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Indra Kenz didakwa dalam kasus investasi bodong aplikasi Binomo. Dalam menjalankan aksinya, Indra Kenz membuat korbannya tertarik dengan konten-konten pamer harta, seolah-olah semua bisa diraih melalui trading Binomo.

Untuk diketahui aktivitas trading mata uang asing foreign exchange (forex) sebenarnya legal di Indonesia. Tetapi berbeda dengan Binomo yang merupakan investasi bodong, aktivitas trading di Indonesia diatur dan diawasi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Semua kegiatan di perdagangan berjangka, termasuk trading forex diatur dalam Undang-Undang Nomer 10 Tahun 2011 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

Tetapi banyak pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan kedok trading forex dengan iming-iming keuntungan jumbo untuk melakukan penipuan.

Lantas bagaimana agar tidak terjerumus dengan penipuan yang berkedok trading forex?

Caranya sebenarnya sangat mudah, yakni bertransaksi di pialang (broker) lokal yang diregulasi oleh pemerintah, dalam hal ini Bappebti.

Selain itu yang patut diingat trading forex bisa menghasilkan profit yang sangat besar, tetapi sebanding dengan risikonya, high risk high return. Artinya, jika ada orang yang menawarkan janji profit yang besar dan pasti (fix income) dalam trading forex, sudah pasti merupakan penipuan.

Untuk diketahui lagi, trading forex harus dilakukan oleh nasabah sendiri. Jika ada oknum dari pialang berjangka yang menawarkan diri untuk melakukan transaksi, sementara nasabah hanya cukup menanamkan modal saja, hal tersebut menyalahi aturan dari Bappebti, dan patut waspada.

Trading forex dilakukan dengan jual beli pasangan mata uang misalnya euro dengan dolar Amerika Serikat (AS) (EUR/USD) yang paling populer, kemudian poundsterling dan dolar AS (GBP/USD). Trading juga bisa dilakukan pada aset emas dengan simbol XAU/USD.

Trading dilakukan dengan memprediksi arah pergerakan pasangan mata uang, jika euro diprediksi menguat maka posisi yang diambil adalah beli (buy/long) EUR/USD. Sebaliknya jika euro diprediksi melemah maka posisi yang diambil jual (sell/short).

Proyeksi PergerakanPerhatian utama saat ini tertuju ke Amerika Serikat, sebab bank sentralnya (The Fed) diprediksi akan agresif menaikkan suku bunga acuannya (Federal Funds Rate/FFR) di tahun ini.

Pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga tiga kali lagi pada Maret, Mei dan Juni masing-masing 25 basis poin. Puncak FFR diperkirakan berada di 5,25% – 5,5%, lebih tinggi dari proyeksi The Fed 5% – 5,25%.

Jika proyeksi tersebut menguat, dolar AS akan perkasa lagi, dampaknya euro, poundsterling hingga emas berisiko merosot.

Jika dilihat tren jangka panjang, euro sebenarnya menurun. Pada 2008 lalu nilainya berada di kisaran US$ 1,5000 sementara saat ini berada di kisaran US$ 1.0600. Bahkan pada tahun lalu sempat menembus ke bawah level paritas atau di bawah US$ 1.

Risiko kembali ke bawah level paritas bagi euro cukup besar dalam beberapa bulan ke depan, khususnya jika The Fed memberikan sinyal kuat suku bunga akan mencapai 5,5%.

Secara teknikal, kebangkitan euro saat ini tertahan oleh Fibonacci Retracement 50% di kisaran US$ 1,09 – US$ 1,1. Fibonnaci Retracement tersebut yang ditarik dari titik terringgi 6 Januari 2021 US$ 1,2349 dan terendah 28 Maret 2028 di Rp 0,9534/US$.

EUR/USD kini berada di dekat Fib. Retracement 38,2% di US$ 1,06. Ini akan menjadi support kuat apalagi melihat indikator Stochastic yang berada di wilayah jenuh jual (oversold) dalam waktu yang sangat lama.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold(di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, dalam jangka pendek atau beberapa pekan ke depan, euro punya peluang naik lagi menuju US$ 1,1 selama tidak menembus ke bawah Fib. Retracement 38,2%.

Artinya, posisi yang diambil adalah buy, dengan stop loss jika EUR/USD menembus ke bawah US$ 1,0600.

Artinya, ada peluang profit sebesar 350 pip, dengan risiko sekitar 60 – 100 pip.

Pip adalah satuan poin terkecil untuk mewakili perubahan harga dalam trading forex. 1 pip dalam euro senilai US$ 10 jika bertransaksi sebesar 1 lot. Dengan demikian, potensi cuan trading EUR/USD sebesar US$ 3.500, dengan risiko kerugian US$ 1.000.

Untuk membuka 1 lot kontrak standar dibutuhkan modal yang berbeda-beda tergantung berapa leverage (rasio antara dana si trader sendiri dan dana pinjaman) yang digunakan oleh trader dan diberikan oleh broker forex.

Tanpa leverage untuk membuka posisi 1 lot dibutuhkan modal sebesar US$ 100.000. Modal itu tentunya sangat besar, sehingga broker-broker memberikan leverage agar trading menjadi lebih terjangkau.

Sebagai catatan, trading forex hanya bisa dilakukan melalui broker forex.

Di Indonesia sendiri broker pada umumnya menyediakan leverage 1:100, maka jumlah modal yang dibutuhkan atau dikenal dengan margin untuk membuka 1 lot standar adalah 100.000/100 = US$ 1.000.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

error: Content is protected !!